Penurunan Arus Mudik 2015 dan Keluhan Pedangang

Penurunan arus mudik 2015 berimbas pada penurunan angka kecelakaan yang terjadi. Jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang terjadi selama arus mudik menurun hingga 4,41%. Penghitungan dimulai sejak H-7 hingga H+2 Lebaran 2015. Dari data Korlantas Polri, jumlah kecelakaan yang terjadi ada 1.952 kasus selama mudik. Dibandingkan tahun kemarin angka kecelakaan mencapai 2.042, maka tahun ini turun 90 kasus.

Berdasarkan jumlah laka lantas, korban yang meninggal dunia mengalami penurunan. Tahun 2014 tercatat 456 nyawa melayang, sedangkan pada tahun 2015 korban meninggal berjumlah 403 jiwa. Ada penurunan sekitar 11,62 persen. Jumlah korban luka berat juga menurun menjadi 709 jiwa dari sebelumnya yang mencapai 1.184 jiwa. Begitu pula untuk korban ringan sebanyak 2.735 pada tahun lalu menurun menjadi 2.520. Kerugian materi yang diderita korban juga mengalami penurunan, yang semula Rp504 juta turun sebanyak 9% sekitar Rp458 juta.

Pedagang Mengeluhkan Sepinya Arus Mudik

Para penjual asongan pinggir jalan sepanjang pantura mengeluhkan sepinya penjualan. Penurunan omzet penjualan ini ditengarai akibat beroperasinya tol Cipali, sehingga banyak pemudik yang mengalihkan jalur mudik ke ruas tol Cikopo – Palimanan. Sepinya penjualan di sepanjang pantura ini juga akibat penurunan arus mudik 2015.

Seorang pedagang air mineral menceritakan, jika tahun lalu ia dapat menjual tiga dus air mineral dalam sehari tahun ini hanya laku satu dus sehari semalam. Selama mudik tahun ini pedangang yang beroperasi tidak sebanyak tahun kemarin. Biasanya pada masa mudik banyak penjual makanan dan minuman ringan di pinggir jalan sepanjang jalan pantura Cikampek.

Para pemudik tahun ini tidak lagi memadati jalur pantura, terutama kendaraan roda empat. Sekarang pemudik melewati tol Jakarta – Cikampek dan langsung melanjutkan ke tol Cikopo – Palimanan. Di satu sisi terjadi ironi sebab rest area tol Cipali masih sangat kurang, banyak pemudik yang harus menahan lelah, lapar dan haus karena masih minimnya fasilitas.

Dampak ekonomi masyarakat pantura yang menurun ini diketahui anggota komisi V DPR, Miryam S. Haryani. Jalur pantura memang memiliki daya tarik dari wisata kulinernya. Jadi keberadaan tol Cipali yang menjadi pemecah kemacetan di pantura bukanlah ancaman yang mematikan bagi perekonomian masyarakat sekitar pantura. Menurutnya pantura bukanlah jalur tol, sehingga masyarakat masih banyak yang melewati jalur tersebut. Lagipula itu merupakan pilihan masyarakat untuk melewati jalur pantura atau tol, sebab bagaimanapun juga pantura masih menjadi pilihan masyarakat.

Tol Cipali sendiri saat ini masih dalam pengembangan terutama penambahan fasilitas, seperti rest area. Diharapkan pada masa mudik tahun depan semua fasilitas tersebut dapat terpenuhi, sehingga menambah kenyamanan pemudik. Sementara ini pembangunan tol masih dikonsentrasikan pada kelengkapan marka dan rambu lalu lintas demi keamanan pengguna jalan tol.

0 comments

Write a Comment

Fields with * are required