Benarkah Indonesia Mengalami Krisis Moneter
Masa kritis, mungkin inilah yang sekarang tengah dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini. Hal tersebut disebabkan oleh semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Kondisi ini sebenarnya tidak berlangsung selama beberapa hari saja, namun sudah beberapa bulan belakangan. Melemahnya nilai tukar rupiah mau tak mau pun semakin mempengaruhi perekonomian dalam negeri serta daya beli masyarakat yang semakin melesu pula.
Setidaknya ada beberapa bukti yang menggambarkan kondisi Indonesia telah memasuki tahap krisis moneter. Semuanya semakin terlihat jelas beberapa hari belakangan, saat keanjlokan rupiah yang telah mencapai kisaran 14.700 per USD. Terbayang memang, betapa tingginya nilai tukar dolar yang dimanfaatkan oleh beberapa pihak. Dampak lebih lanjutnya tentu saja dengan “kaburnya” beberapa investor luar negeri yang makin memperparah kondisi perekonomian dalam negeri.
Pelarian modal yang lengah diawasi oleh pemerintah bisa dibilang sebagai salah satu gambaran krisis moneter. Inflasi yang makin meningkat dan tidak terkontrol mengakibatkan pula neraca pembayaran yang makin membesar. Alhasil, perekonomian dalam negeri pun makin melesu dan mengakibatkan beberapa perusahaan memilih gulung tikar. Hal lainnya yang berdampak serius adalah suku bunga bank yang naik drastis dan semakin meninggi daripada sebelumnya.
Kondisi ini tanpa disadari mempengaruhi pula hutang negara terhadap luar negeri yang makin melambung. Pasalnya nilai dolar yang makin meningkat tentu berpengaruh negatif terhadap jumlah hutang luar negeri yang kita miliki. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama krisis moneter yang dialami oleh Indonesia saat ini? Beni Pramula, Ketua Umum DPP IMM menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan saham merupakan respon pasar terhadap kebijakan pemerintahan Jokowi dan JK.
Bisa dibilang kegagalan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang berdampak langsung ke masyarakatlah yang melatarbelakanginya. Nilai tukar rupiah yang semakin kaku menjadi bukti nyata dari kegagalan kebijakan pemerintah terhadap ekonomi makro dalam negeri. Mungkin saja ada regulasi fiskal yang bocor dan berdampak buruk pada sistem perekonomian belakangan waktu ini.